- Home >
- INTERNASIONAL >
- Lewati Perbatasan Inggris, Seorang Pengungsi Kehilangan Kedua Kakinya
21 January 2018
Seorang pengungsi asal Kurdistan, Irak harus kehilangan kedua kakinya setelah tertabrak kereta saat akan melintasi perbatasan Inggris dari utara Perancis.
Aram Sabah Xalid, atau yang dipanggil Alan, tertabrak kereta di daerah Grande-Synthe di dekat Dunkirk, Perancis.
Akibat luka yang parah di kedua kakinya, pria berusia 26 tahun itu harus menjalani operasi amputasi setelah dibawa ke rumah sakit di Lille, Perancis.
Mengutip dari The Independent, selama di kamp pengungsi di Dunkirk, Alan dikenal sebagai pribadi yang baik dan ramah. Dia bekerja sebagai juru masak di kamp dan kerap membantu orang lain yang membutuhkan.
Dia telah tinggal di pengungsian bersama sang istri selama bertahun-tahun sembari menanti putusan pengajuan suaka ke Perancis. Namun pada akhirnya pengajuannya ditolak.
Annie Gavrilescu dari organisasi relawan, Help Refugees, mengatakan pada The Independent, semakin tingginya keputusasaan dari para pengungsi ditambah cuaca dingin selama berbulan-bulan semakin mendorong mereka untuk melakukan hal berbahaya dan tidak rasional.
"Kondisi hidup yang sangat menyedihkan mereka rasakan sehingga membuat mereka berbuat hal berbahaya hanya agar bisa keluar dari kondisi itu."
"Sangat menyedihkan, terutama karena cuaca dingin, salju dan hujan, dan para pengungsi menghadapi begitu banyak permusuhan dari semua orang di sini," kata dia.
Dikatakan Annie, ada sangat banyak pengungsi yang mengajukan permohonan suaka untuk dapat tinggal di Perancis. Namun mereka tidak selalu memiliki akomodasi selama masa tiga bulan menanti putusan permohonan mereka.
Alan bukan korban pengungsi pertama di perbatasan Perancis dan Inggris itu. Sebelumnya pada Desember, tiga pengungsi tewas di jalan di luar dermaga Calais.
Satu bulan sebelumnya, seorang bocah pengungsi berusia 15 tahun juga tewas setelah tertabrak sebuah truk pendingin.
Alan lebih beruntung karena masih bisa terselamatkan meski harus kehilangan kedua kakinya. Saat ini rekan-rekan relawan tengah mengusahakan bantuan kaki palsu untuknya.
Pemerintah Perancis dan Inggris saat ini tengah mengupayakan untuk mengurangi penderitaan para pengungsi di utara Perancis.
Upaya dilakukan dengan mempercepat proses penyelesaian pengajuan suaka dan izin tinggal, dari semula hingga enam bulan, menjadi hanya 25 hari untuk pengungsi anak-anak dan satu bulan untuk pengungsi dewasa.
Aram Sabah Xalid, atau yang dipanggil Alan, tertabrak kereta di daerah Grande-Synthe di dekat Dunkirk, Perancis.
Akibat luka yang parah di kedua kakinya, pria berusia 26 tahun itu harus menjalani operasi amputasi setelah dibawa ke rumah sakit di Lille, Perancis.
Mengutip dari The Independent, selama di kamp pengungsi di Dunkirk, Alan dikenal sebagai pribadi yang baik dan ramah. Dia bekerja sebagai juru masak di kamp dan kerap membantu orang lain yang membutuhkan.
Dia telah tinggal di pengungsian bersama sang istri selama bertahun-tahun sembari menanti putusan pengajuan suaka ke Perancis. Namun pada akhirnya pengajuannya ditolak.
Annie Gavrilescu dari organisasi relawan, Help Refugees, mengatakan pada The Independent, semakin tingginya keputusasaan dari para pengungsi ditambah cuaca dingin selama berbulan-bulan semakin mendorong mereka untuk melakukan hal berbahaya dan tidak rasional.
"Kondisi hidup yang sangat menyedihkan mereka rasakan sehingga membuat mereka berbuat hal berbahaya hanya agar bisa keluar dari kondisi itu."
"Sangat menyedihkan, terutama karena cuaca dingin, salju dan hujan, dan para pengungsi menghadapi begitu banyak permusuhan dari semua orang di sini," kata dia.
Dikatakan Annie, ada sangat banyak pengungsi yang mengajukan permohonan suaka untuk dapat tinggal di Perancis. Namun mereka tidak selalu memiliki akomodasi selama masa tiga bulan menanti putusan permohonan mereka.
Alan bukan korban pengungsi pertama di perbatasan Perancis dan Inggris itu. Sebelumnya pada Desember, tiga pengungsi tewas di jalan di luar dermaga Calais.
Satu bulan sebelumnya, seorang bocah pengungsi berusia 15 tahun juga tewas setelah tertabrak sebuah truk pendingin.
Alan lebih beruntung karena masih bisa terselamatkan meski harus kehilangan kedua kakinya. Saat ini rekan-rekan relawan tengah mengusahakan bantuan kaki palsu untuknya.
Pemerintah Perancis dan Inggris saat ini tengah mengupayakan untuk mengurangi penderitaan para pengungsi di utara Perancis.
Upaya dilakukan dengan mempercepat proses penyelesaian pengajuan suaka dan izin tinggal, dari semula hingga enam bulan, menjadi hanya 25 hari untuk pengungsi anak-anak dan satu bulan untuk pengungsi dewasa.
